BLOG JUFRI

Wartawan Haluan Padang

    Iklan
  • Kategori

  • Arsip

Menjaga Pantai Padang

Posted by jufrisyahruddin pada Juni 6, 2007

SEKITAR dua ribu lima ratus pengawai negeri sipil dan warga kota Padang melakukan gotong royong membersihkan pantai
Padang. Goro ini dimaksudkan agar pantai kebanggaan masyarakat
Padang dan Sumbar tersebut tetap terjaga kebersihan dan keindahannya sehingga masih menjadi objek wisata menarik.
Pantai itu memang patut dijaga keasrian, keindahan dan daya tariknya karena ia merupakan etalase wisata daerah ini. Agaknya tidak berlebihan kalau Pantai
Padang disebut sebagai gerbang pariwisata Ranah Minang. Kemasyhurannya sudah terkenal ke seluruh pelosok Sumbar khsusnya dan tanah air umumnya. Jadi, sayang kalau pantai itu kemudian dibiarkan terlantar.
Beberapa waktu lalu warga kota sempat gembira manakala Pemko membenahi pantai itu dengan  “mengusir” pedagang kaki lima yang terkesan “mengotori” kawasan wisata tersebut. Pandangan ke arah laut jadi terbuka  lebar sehingga pengunjung benar-benar menikmati objek rekreasi itu.  Di sepanjang pantai dipasang lampu-lampu jalan yang terang benderang. Jadilah daerah itu sebagai arena penyejuk jiwa, pelepas lelah, dan pengusir stress.  Kalau sebelumnya masyarakat tidak bisa memandang laut dengan bebas karena tertutup tenda-tenda dan bangunan pedagang, sekarang sudah bebas pandang. Setiap sore pantai itu jadi ramai dan pada malam Minggu ribuan warga kota berduyun-duyun datang ke
sana. Hal ini  membuat
Padang menjadi hidup.
Akan tetapi, belakangan kita kembali menyaksikan pemandangan yang kurang sedap. Di sepanjang pantai kembali terlihat pedagang menggelar dagangannya dan mendirikan tenda-tenda atau bangunan sehingga kawasan itu jadi sempit dan tertutup kembali. Akibatnya, pengunjung tak lagi bebas menikmati daerah itu yang pada gilirannya mengendorkan minat mereka datang ke
sana. Bukan itu saja, di berbagai lokasi pantai juga banyak tumpukan sampah dan bau tak sedap.
Jika ingin menjadikan pantai Padang seperti pantai Losari di Makassar, tiada jalan lain kecuali membebaskan daerah itu dari pedagang kaki
lima dan buangan sampah. Kita bukan melarang pedagang berjualan mencari makan di situ, tetapi lokasinya dipindahkan ke seberang jalan sehingga tidak menutup pemandangan ke arah laut. Kalau kawasan bibir pantai tetap dihuni pedagang, pantai akan tetap kotor dan sembrawut.
Pemko harus belajar dari pengalaman bahwa mencegah pedagang berjualan di suatu lokasi lebih mudah daripada memindahkan atau menggusurnya. Justru itu, sebelum suatu daerah menjadi “pemukiman” pedagang,  Pemko harus bertindak tegas melarang mereka. Hal ini akan mengurangi resiko konflik sosial. Apapun alasannya, kawasan bibir pantai harus bebas dari semua bentuk bangunan, tenda dan payung pedagang serta onggokan sampah. Selain itu, kawasan itu juga harus asri, indah dan bebas bau busuk. Ini menyangkut kenyamanan, privasi dan rasa aman. Kenyamanan dan keamanan di objek wisata hanya akan tecipta bilamana semua aktivitas pancaindera terbebas dari gangguan. Misalnya, mata bebas pemandangan  yang kotor, jorok dan kesembrawutan, hidung bebas dari bau busuk, dan telinga terhindar dari pendengaran yang kurang baik. +++

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: