BLOG JUFRI

Wartawan Haluan Padang

    Iklan
  • Kategori

  • Arsip

UN “Melecehkan” Pembelajaran di Sekolah

Posted by jufrisyahruddin pada Juli 18, 2007

DI dalam  proses pembelajaran, seorang guru melaksanakan tiga kegiatan utama yang saling terkait. Pertama guru melakukan kegiatan pengajaran. Ia berupaya menyajikan materi kepada siswa dengan baik berdasarkan kurikulum. Materi atau yang juga disebut dengan konten itu disajikan dengan menggunakan berbagai teknik dan metode agar siswa mampu menyerapnya dengan sempurna.   Selain melakukan pengajaran, guru juga  melakukan ujian atau yang disebut dengan tes. Seorang Guru tidak hanya mengajar tiap hari di depan kelas, tetapi juga melakukan tes guna mengetahui pencapaian anak didiknya. Guru yang hanya pandai mengajar, tetapi tidak pernah melakukan tes, boleh dibilang gagal dalam tugasnya. Ia tidak akan tahu tingkat penyerapan siswa terhadap materi ajar ia berikan.Materi yang sudah disajikan oleh guru akan diuji secara berkala. Ujian atau tes ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mampu menyerap dan memahami materi yang diajarkan. Kalau hasil tes ini jelek, maka guru bisa saja melakukan perbaikan pengajarannya. Jadi, tes ini banyak fungsinya, misalnya, untuk perbaikan kurikulum, perbaikan metode pengajaran dan menentukan tingkat kesulitan materi pelajaran. Justru itu, tes tersebut ada yang disebut dengan tes diagnostik dan ada juga tes pencapaian yang diwujudkan dalam bentuk tes formatif dan sumatif.Di samping melakukan tes, tugas guru yang penting lagi adalah melakukan penilaian yang lebih dikenal dengan sebutan evaluasi atau asesmen. Asesmen atau evaluasi ini berbeda dengan tes. Kalau tes dilakukan secara berkala, evaluasi atau asesmen dilakukan secara terus menerus atau berkelanjutan mulai dari awal sampai akhir semester. Evaluasi ini bertujuan untuk mengambil keputusan apakah seorang siswa lulus suatu mata pelajaran atau tidak. Alat yang dipakai untuk evaluasi ini adalah tes dan non tes. Tes bisa berbentuk tulis dan lisan, dan bisa pula dalam bentuk unjuk kerja. Sementara itu, non tes adalah alat untuk mengukur kemampuan siswa yang bersifat afektif lewat suatu pengamatan atau obervasi, interview, isian atau kuesioner. Gabungan dari hasil tes dan non tes inilah yang akan dijadikan bahan untuk menentukan kelulusan seseorang. Bisa saja guru melakukan tes beberapa kali, tetapi hasil tes yang banyak itu belum bisa dijadikan ukuran untuk kelulusan siswa Guru mesti melengkapinya dengan hasil non tes berupa pengamatan atas diri siswa terhadap sikap, partisipasi, disiplin, kerajinan dan kemampuan motoriknya. Di dalam melakukan tes, guru tidak boleh memberi soal yang tidak pernah diajarkan. Para ahli telah bersepakat bahwa jangan lah mentes sesuatu yang belum pernah diajarkan kepada siswa. Artinya, materi yang diujikan itu adalah semua bahan yang telah diajarkan kepada siswa. Kalau belum diajarkan, jangan diujikan. Berdasarkan gambaran di atas, sekarang marilah kita kaji bagaimana soal-soal yang ada dalam UN. Semua soal UN dibuat oleh orang “pusat” tanpa (?) melibatkan guru dan unsur persekolahan. Semua bahan UN merupakan “barang titipan” dari “atas”. Pihak sekolah hanya terima beres saja semua yang diturunkan dari pusat. Disinilah kejanggalannya. Sebagaimana disebutkan diatas, soal ujian haruslah semua materi yang sudah diajarkan kepada siswa dan berdasarkan kurikulum. Kalau belum lagi diajarkan, tidak boleh diujikan, apalagi keluar dari kurikulum. Yang paling tahu bahwa bahan itu telah diajarkan adalah guru, bukan orang pusat. Selain itu, untuk menentukan kelulusan seorang siswa  tidak bisa hanya sekali tes saja. Kalau hasil UN yang hanya sekali uji itu dijadikan pedoman untuk kelulusan, hal itu jelas merugikan siswa dan bertentangan dengan prinsip belajar itu sendiri. Bukan itu saja, UN juga tidak mengakomodir hasil non tes sebagaimana layaknya sebuah penilaian. Kalau aspek non tes diabaikan saja, maka potensi siswa tidak tergali dengan baik. Hal ini akan sangat bertentangan dengan kegiatan pengajaran yang bermuara kepada perolehan kompetensi. Tiap hari guru susah payah menilai segi afektif dan psikomotirk siswa, namun di dalam UN hal itu diabaikan saja. Akibatnya, potensi siswa tidak tergali dengan sepenuhnya.Kalau hal ini terus dilakukan di dalam UN, itu berarti pemerintah telah “melecehkan” aspek pembelajaran di sekolah. Di sekolah pembelajaran diarahkan untuk menggali seluruh potensi dan kecerdasan anak seperti segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Malah sekarang ditambah lagi dengan kecerdasan emosi dan spritual. Sementara itu, yang diujikan dalam UN hanyalah segi kognitif semata yang belum tentu pula menguji kompetensi siswa. Justru itu, tidak salah kiranya tudingan miring sejumlah pihak yang mengatakan bahwa UN itu hanya sebuah “proyek” yang dipaksakan.Apalagi sekarang persekolahan kita memakai kurikulum baru yang dikenal dengan KBK dan KTSP. Di dalam KTSP dan KBK yang kini dipakai dalam pendidikan dasar dan menengah, seorang guru dituntut untuk menilai tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Segi kognitif adalah pengetahuan yang diberikan, afektif merupakan sikap siswa sedangkan psikomotor berkaitan dengan keterampilan. Sesuai dengan KTSP, yang menjadi tujuan akhir pembelajaran adalah tercapainya sebuah kompetensi berdasarkan kurikulum. Materi yang terdapat dalam kurikulum itu harus diwujudkan menjadi sebuah kompetensi. Untuk mencapai kompetensi tersebut guru melakukan berbagai kegiatan belajar dan menanamkan pengalaman nyata kepada siswa. Ini artinya, proses pembelajaran tidak hanya berhenti pada pemberian pengetahuan belaka. Kalau di dalam pembelajaran digali semua potensi siswa, maka dalam ujian pun seharusnya dites kembali kompetensi yang sudah diperoleh anak itu. Sekarang pertanyaan kita apakah UN sudah menguji kompetensi sesuai dengan tuntutan KBK dan KTSP itu? (Bersambung).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: