BLOG JUFRI

Wartawan Haluan Padang

    Iklan
  • Kategori

  • Arsip

UN Timbulkan Kecemburuan di Kalangan Guru

Posted by jufrisyahruddin pada Juli 18, 2007

UJIAN Nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah tetap menimbulkan keenggenan dan perdebatan berbagai pihak, terutama terhadap mata pelajaran yang diujikan. Untuk siswa jurusan IPS, misalnya, pemerintah memasukkan tiga mata pelajaran ke dalam UN yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ekonomi. Sementara itu, untuk jurusan IPA, mata pelajaran yang diujikan di dalam UN adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Dengan memasukkan hanya sebagian kecil saja mata pelajaran ke dalam UN, maka timbullah kecemburuan di kalangan para guru. Guru yang mata pelajarannya tidak diujikan di dalam UN merasa dianaktirikan. Akibatnya, motivasi mengajar mereka menurun.Yang lebih para lagi adalah siswa memandang enteng mata pelajaran yang tidak diujikan di dalam UN. Mereka kehilangan motivasi belajar dan merasa hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggirs, Matematika dan Ekonomi sajalah yang penting. Selebihnya, mereka anggap pelajaran ekstra alias tambahan belaka. Guru-guru kesulitan untuk memotivasi siswa agar merasa semua mata pelajaran itu sama. Tindakan diskriminatif ini telah menimbulkan kesenjangan di sekolah. Kecemburuan di kalangan guru tidak bisa dihindarkan yang pada gilirannya membunuh kreativita guru. Suasana akademis pun bisa terganggu. Tindakan pembedaan tersebut juga mengakibatkan ada guru yang dianakemaskan oleh kepala sekolah. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ekonomi memperoleh perhatian yang lebih besar ketimbang mata pelajaran lainnya. Pelatihan-pelatihan dan in-service training pun lebih banyak diberikan kepada guru-guru tersebut. Hal ini lama kelamaan akan menumbuhkan atmosfir akademis yang  buruk. Walaupun mata pelajaran lain juga diujikan pada Ujian Akhir Sekolah, namun itu tidak begitu menentukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa UN lebih menentukan lulus tidaknya seseorang pada suatu jenjang pendidikan. Kalau seorang siswa telah lulus UN, sudah bisa dipastikan ia pun akan “diluluskan” juga dalam ujian akhir sekolah. Penetapan tiga mata pelajaran di dalam UN memang patut dipertanyakan. Di tinjau dari teori psikologi belajar, ada tujuh kemampuan yang harus digali dari anak. Ketujuh kemampuan itu disebut dengan “multiple intelligence” yang terdiri dari kemampuan arithmatik (ilmu hitung), linguistik (bahasa), rithmik dan musik, kinestetik (olah raga), interpersonal, intrapersonal dan estetika. Di samping itu, siswa juga dibekali dengan kecerdasan spritual. Semua potensi itu harus digali dan dikembangkan agar seorang siswa betul-betul tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Nah, kalau di dalam UN hanya diujikan arithmatik dan linguistik saja, bagaimana dengan kemampuan atau kecerdasan yang lain?Mata pelajaran yang diujikan di dalam UN jelas tidak mencerminkan kecerdasan dan kemampuan seseorang secara lengkap. Apa pun alasan yang dikemukakan pemerintah, pemilihan mata pelajaran tersebut belum sesuai dengan teori yang ada. Kita yakin bahwa pemerintah tidak sanggup memasukkan semua mata pelajaran ke dalam UN karena biayanya sangat besar. Namun tindakan “pilih kasih” dan “tebang pilih” itu juga terkesan dipaksakan. Konon alasan pemerintah adalah bahwa ketiga mata pelajaran itu adalah alat yang dipakai untuk komunikasi dan berhitung. Tentu itu adalah alasan yang dicari-cari dan dibuat-buat. Setelah tamat sekolah di jenjang pendidikan menengah, seorang siswa akan memilih bidang ilmu yang amat beragam. Hampir dapat dipastikan bahwa hanya sebagian kecil saja siswa yang memilih jurusan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggirs, Matematika,atau Ekonomi pada perguruan tinggi kelak. Mereka akan menyebar ke mana-mana sesuai dengan minat dan arah hidupnya.Ada yang akan memilih jurusan olahraga, seni musik, sosiologi, seni rupa, dan lain-lain. Kalau mereka gagal UN karena tidak lulus Ekonomi atau Bahasa Inggris, hal itu jelas sebuah keanehan. Oleh karena itu, tentu tidaklah tepat kalau kelulusan seseorang ditentukan lewat UN yang hanya menguji sebagian kecil kemampuan siswa saja. Oleh karena itu, ditinjau dari jumlah mata ujian yang dimasukkan ke dalam UN, rasanya Ujian Nasional itu belum lagi sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin menciptakan manusia seutuhnya. Agaknya pemerintah perlu mempertimbangkan lagi apakah akan menambah mata pelajaran di dalam UN atau akan menghilangkan UN itu sendiri. (Bersambung).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: